HERMANTO M NOOR Lahir di Medan, Sumatera Utara pada 5 Juni 1957. Ayahnya M. Nur Soewito, pada awal tahun 1970-an merantau ke Batam. Nur Soewito adalah salah seorang pendiri Ikatan Keluarga Deli Serdang yang disingkat IKADELIS. Warga yang berasal dari Deli Serdang, cukup banyak bekerja di Pulau Sambu yang dijadikan depot minyak Pertamina.

Pekerja dari Medan dan Deli Serdang, banyak yang bekerja di Batam, saat Batam dikembangkan menjadi kawasan industri, perdagangan dan alih kapal, terutama yang berasal dari Pangkalan Berandan dan sekitarnya. Apalagi, Pangkalan Berandan adalah kilang minyak pertama di Indonesia dan banyak tenaga kerja yang memiliki keah-lian bekerja di kilang minyak.
Nur Soewito ayah Hermanto, bekerja di salah satu perusahaan asing di Batam, se-hingga sering ditugaskan ke luar negeri. ’’Nama ayah saya dulu itu ditulis Nur, setelah di Batam tertulis Noor. Dibaca sama, sehingga nama ayah jadilah M Noor Soewito,’’ cerita Hermanto kepada sahabat karibnya, Imbalo Iman Sakti.
Hermanto dan keluarganya tinggal di Medan Labuhan, salah satu dari 21 kecamatan di Kota Medan. Sejak lahir sampai remaja, Hermanto tinggal di dekat Masjid Al-Os-mani yang juga di kenal dengan sebutan Masjid Labuhan karena lokasinya yang bera-da di kecamatan Medan Labuhan. Masjid ini adalah masjid tertua di kota Medan.
Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 7 Medan, pada bulan November 1977 Hermanto menyusul sang ayah dan keluarganya lalu menetap di Batam. Saat itu, ia berusia 20 tahun. Selama setahun, dari tahun 1978 sampai 1979 Hermanto bekerja sebagai pegawai honorer PT Persero Batam.
‘’Saya pindah ke Batam pada tahun 1977 karena ikut orang tua. Saat itu, kondisi Batam tidak seperti sekarang. Banyak jalan belum diaspal. Mobil dan motor masih sangat sedikit. Kalau kita mau pergi ke Jodoh dari Sekupang, harus sewa boat pancung. Rumah penduduk kebanyakan rumah pelantar di Jodoh. Air bersih susah. Kalau hujan, warga Jodoh sibuk menampung air hujan,’’ cerita Hermanto.
PT Persero Batam adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan awal tahun 1970-an untuk membangun infrastruktur dan menggerakkan perekonomian di Pulau Batam. Persero Batam mengelola sejumlah lokasi seperti Sekupang, Batu Ampar, dan Kabil sebagai daerah pabean atau Bonded Warehouse, di mana Persero Ba-tam bertindak sebagai pengelolanya. Sejak awal pendiriannya, Persero Batam me-miliki mandat untuk menunjang pembangunan infrastruktur serta mendorong pertum-buhan ekonomi dan investasi di Batam.
Persero Batam merintis pembangunan sarana penunjang bagi pekerja dan investor asing serta turut membangun dan mengembangkan berbagai sektor rintisan seperti perhotelan, pusat perbelanjaan, jasa transportasi darat, pergudangan (warehousing), hingga jasa pengapalan (shipping dan forwarding) demi menghidupkan denyut eko-nomi Batam.
’’Saya betah tinggal di Batam, karena orang tua saya sudah tinggal di Batam sejak tahun 1974. Selain itu, saya memilih di Batam karena melihat prospek masa depan Batam, yang menurut saya, sangat bagus. Apalagi, saat itu jumlah penduduk Batam masih sedikit,’’ ujar Hermanto M Noor.
Setelah itu, Hermanto bekerja di sebuah perusahaan asing PT Avlau Indonesia dari tahun 1980 sampai 1983. Awalnya, Hermanto tugasnya di Document Shipping, kemu-dian dipercaya sebagai Head of Purchasing. PT Avlau adalah salah satu pionir industri berat di Pulau Batam ketika wilayah ini mulai dibuka sebagai kawasan industri, perda-gangan, dan alih kapal.
Sungai Jodoh Terbakar
Tahun 1980-an, kawasan Sungai Jodoh atau Jodoh, adalah pusat perdagangan tradi-sional dan kawasan permukiman pelantar berupa rumah-rumah kayu di atas laut dan pesisir pantai. Kebakaran hebat yang menghanguskan kawasan permukiman pelantar Sungai Jodoh terjadi pada 14 Juni 1980. Api berkobar sejak malam hingga dini hari.
Api dengan cepat menjalar, karena mayoritas bangunan berupa rumah panggung kayu di atas air pelantar yang saling berdempetan, serta keterbatasan armada pema-dam kebakaran pada masa itu. Rumah-rumah kayu dan berdempetan itu, dengan cepat dilalap api dan menghanguskan seluruh pelantar.
Otorita Batam memindahkan para pedagang serta warga terdampak kebakaran ke daratan. Penataan ini melahirkan pemukiman kaveling serta penataan ulang kawasan perkotaan di daerah Seraya, Pelita, hingga Bengkong. Sejak itulah, kawasan Jodoh dan Nagoya mulai dibangun pertokoan, ruko dan pasar.
’’Selama tinggal di Batam, pengalaman tak terlupakan bagi saya adalah saat rumah kami di Sungai Jodoh, habis terbakar tahun 1980 itu. Kami sekeluarga, kehilangan tempat tinggal,’’ kata Hermanto Noor, mengenang kejadiaan itu.

Selama menjadi warga Batam, yang paling berkesan bagi Hermanto menyaksikan langsung perkembangan Batam pada awal dikembangkan. Antara lain, ia sudah men-jejakkan kaki ke negara tetangga Singapura, tahun 1980. ’’Pengalaman yang berkesan bagi saya adalah, saat pertama kali ke Singapura naik kapal ferry Auto Batam dari pelabuhan Batuampar,’’ kata Hermanto.
Perusahaan PT Lubuk Baja Utama dimana Hermanto M Noor sebagai Direktur Utama dari tahun 1987 sampai 2010, selain pengadaan taksi bandara Hang Nadim untuk pertama kalinya, juga melakukan penghijauan dan menanam pohon Trembesi dari Simpang Jam yang kini menjadi fly over Laluan Madani, sampai ke bundaran Otorita Batam dan pohon palem di depan pelabuhan Batam Centre dan Mega Mall.
Pohon trembesi (Samanea saman) adalah pohon berukuran besar dan cepat tumbuh yang memiliki tajuk lebar menyerupai payung raksasa serta kemampuan tinggi dalam menyerap gas karbon dioksida. Pohon ini memang diperuntukkan bagi ruang publik yang sangat luas seperti taman.

Ciri pohon trembesi ini sangat mudah dikenali dari karakteristik dahan pohonnya yang akan membentuk seperti bentuk payung. Dan pohon trembesi ini akan tumbuh melebar melebihi ketinggian pohonnya. Di negara asalnya pohon ini dipergunakan sebagai pohon penyejuk di perkebunan maupun taman.
‘’Perusahaan saya PT Lubuk Baja Utama yang mengerjakan penanaman pohon Trembesi dari Simpang Jam sampai ke bundaran Otorita Batam sampai ke depan Mega Mall. Pohon tersebut saya tanam tahun 1991 dan bibitnya saya beli dari Malaysia,’’ cerita Hermanto.
Bandara Hang Nadim
Bandar Udara Hang Nadim awalnya bandara perintis, mulai beroperasi tahun 1973. Saat itu, statusnya pelabuhan udara khusus dan landasan pacu hanya 700 meter un-tuk menunjang operasional Pertamina. Pesawat yang beroperasi saat itu adalah type Skyfan, Britain Norman dan Casa. Pembangunan bandara Hang Nadim di Pulau Batam dimulai tahun 1974. Awalnya, direncanakan lokasinya di Tanjung Uncang, lalu dipindahkan ke Batu Besar karena adanya aturan penerbangan internasional.
Tahun 1978 status bandara Hang Nadim menjadi pelabuhan udara umum. Tahun 1983 Hang Nadim ditetapkan sebagai pelabuhan udara kelas II. Seiring dengan perkemp-bangan dan kemajuan Batam, bandara Hang Nadim mulai dioperasikan dan jadi ban-dara komersil sejak 1 Januari 1984 ditandai untuk pertama kalinya membuat lan-dasan pacu (runway) sepanjang 4.025 meter.
’’Saya sangat terkesan dengan kemajuan bandara Hang Nadim yang mulai beroperasi secara bertahap dan membangun landasan pacu atau runway tahun 1984 terpanjang di Indonesia,’’ ujar Hermanto M Noor. Sejak 1 Januari 1985 Hang Nadim menjadi ban-dara nasional, melayani penerbangan domestik rute penerbangan langsung ke Ja-karta, Surabaya, Bandung, Padang, Medan, Pekanbaru dan Palembang.

Setahun kemudian, tepatnya 1986 untuk pertama kalinya, bandara Hang Nadim Batam memiliki armada taksi bandara, untuk mengantar dan menjemput penumpang di keberangkatan maupun kedatangan di bandar udara itu. ‘’Perusahaan saya yang menyediakan dan menyiapkan armada taksi pertama di bandara Hang Nadim. Hanya sepuluh unit. Memakai logo Persero Batam. Itulah awal mula taksi di bandara Hang Nadim,’’ cerita Hermanto M Noor.
Hermanto berharap, Batam semakin maju dan modern. Pengurusan dokumen tidak dipersulit. Batam bisa tetap makin bersinar dan menjadi pilihan para investor mena-namkan modalnya. Sehingga, Batam tetap menjadi kota industri yang terbaik dan mampu mengatasi dan mengurangi angka pengangguran. ’’Kalapun Batam belum bisa menyaingi Singapura, paling tidak jangan kalah dengan Johor,’’ katanya.
Hermanto menjalankan prinsip bekerja sambil terus belajar atau learning by doing. Ia menjadi seorang profesional dan wiraswasta dengan pengalaman panjang dalam bi-dang administrasi shipping, purchasing, ekspor-impor, kontraktor, dealer mobil, perda-gangan kendaraan, serta kepemimpinan organisasi. Memiliki pengalaman memimpin perusahaan dan mengelola kegiatan bisnis sejak akhir 1970-an hingga saat ini.
Selama dua tahun, 1984 sampai 1986 Hermanto dipercaya menjadi direktur PT Putra Jaya Kundur. Perusahaan ini adalah salah satu perusahaan pionir dan pengembang real estat terbesar di Kota Batam yang berdiri sejak tahun 1971. Fokus utama bisnis-nya adalah pengembang properti, real estat, dan kepemilikan aset di kota-kota ber-kembang Indonesia khususnya Batam.
Perusahaan pengembang ini, telah menghadirkan berbagai proyek prestisius di Ba-tam, antara lain, Indah Puri Golf Resort sebagai resor dan arena golf pertama di Batam, pusat perbelanjaan dan komersial ikonik seperti Nagoya Hill Mall dan Jodoh Center Point dan kawasan bisnis Mitra Raya 2, Windsor Park, Windsor phase, Windsor villa, Happy Garden dan Nagoya Square.
Keahliian dan pengalaman utama Hermanto M Noor adalah, menguasai manajemen dan kepemimpinan perusahaan, purchasing dan pengadaan, perdagangan dan jual beli kendaraan, ekspor-impor dan dokumentasi shipping, kontraktor dan pengelolaan usaha serta pengembangan relasi dan organisasi.
Pada tahun 1987 Hermanto menjadi Direktur Utama PT Lubuk Baja Utama, Batam, yang bergerak di bidang ekspor-impor, kontraktor, dan dealer mobil, sampai tahun 2010 dan kemudian menjabat sebagai Direktur Utama PT Yeliroha, usaha jual beli mobil periode tahun 2010 sampai 2015.
Kawan Lama Batam
Perkumpulan Kawan Lama Batam atau disingkat KALAM dideklarasikan dan didirikan pada Kamis 3 Desember 2015 di Batam. Perkumpulan ini didirikan beranggotakan warga Batam yang sudah lama tinggal di Batam sejak tahun 1970, tahun 1980 dan tahun 1990.
Sejak awal dideklarasikan, Hermanto M Noor sudah dipercaya menjadi ketua orga-nisasi ini. Ia berperan dalam menjaga silaturahmi, mempererat hubungan antar ang-gota, serta mengembangkan kegiatan organisasi dan kebersamaan komunitas Kawan Lama Batam. Hermanto menerima pataka dari pendiri KALAM Soerya Respationo.
Pada tanggal 31 Januari 2019 organisasi KALAM diubah menjadi organisasi yang berbadan hukum sehingga menjadi Perkumpulan Kawan Lama Batam sejak tanggal 18 Februari 2019 dan Akta Pendiriannya Nomor 6 Tanggal 18 Pebruari 2019, untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

Tujuan dan fungsi KALAM antara lain, sebagai sarana tempat berkumpul dan bersilah-turahmi bagi warga Kota Batam yang datang atau berdomisili pada periode tahun 1970 dan sebelum tahun 1995. Turut serta dan sumbang saran kepada Pemerintah Daerah dan BP Batam dalam menunjang pertumbuhan dan meningkatkan ekonomi Batam.
Serta menumbuhkembangkan rasa kesetiakawanan sosial antar anggota khususnya yang sedang tertimpa musibah dan turut serta dan peduli terha-dap kehidupan sosial masyarakat Batam. Turut serta membantu pemerintah daerah mengembangkan dan memajukan dunia pendidikan formal dan non formal.
Hermanto aktif mengadakan berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan serta menyalurkan bantuan kepada anak yatim dan panti asuhan. Secara rutin, KALAM mengadakan kegiatan berbuka puasa bersama dan bersilaturahmi sesama anggota-nya. Namun, selama pandemi Covid-19 aktivitas dan kegiatan KALAM vakum dan nyaris terhenti.
Para pendiri dan pengurus Kalam sepakat, melakukan reorganisasi karena berbagai kendala yang dihadapi organisasi Kalam Batam, seperti wabah Covid-19 dan bebe-rapa pengurus yang tidak aktif lagi. Keputusan rapat tersebut antara lain, memberikan perpanjangan masa bakti Ketua Umum Kalam dengan tugas utama merestrukturisasi susunan pengurus Kalam untuk masa bakti 2026 – 2030.
’’Perkumpulan Kawan Lama Batam atau Kalam, bisa menjadi wadah untuk kita bersi-laturahmi dan bernostalgia serta berbagi kepada sesama. Harapan saya untuk semua pengurus dan anggota Kawan Lama Batam semakin solid, semakin kompak dan semakin maju serta turut menyokong pembangunan di Batam.’’ kata Hermanto Noor.
Ia juga berharap dan menyarankan, agar para pemimpin Batam saat ini, lebih tran-sparan, lebih giat lagi untuk pembangunan di Batam, pengurusan dokumen dan per-izinan harus lebih di permudah serta harus lebih mementingkan masyarakat di ban-dingkan dengan kegiatan yang tidak bermanfaat.
‘’Harapan saya, pemerintah Kota Batam dan BP Batam lebih banyak lagi bekerja sama dengan para pengusaha dan nvestor untuk membuka lapangan pekerjaan. Termasuk, bagi orang yang mungkin tidak punya ijazah atau sudah lanjut usia, namun orang itu masih butuh pekerjaan untuk menghidupi anak dan istri di rumah,’’ kata Hermanto. ***
