IRSAFWIN Chaniago lahir di Bukittinggi, 10 Februari 1955. Gelar insinyur diraihnya sebagai sarjana teknik mesin Fakultas Teknik Universitas Trisakti, Jakarta. Selama kuliah, ia pernah menjadi asisten dosen dan dosen luar biasa di almamaternya. Irsafwin juga mengikuti beberapa pendidikan khusus dan training seperti kursus keahlian yang diselenggarakan IWPL Migas, Welding Inspector, NDT ASNT Level II, Underwater NDT Inspector (DnV). Auditor dan Lead Assessor ISO 9000, Amdal C (UI) dan surveyor training di Germanicher Lloyd, Hamburg, Jerman.

Irsafwin merintis karirnya sebagai Senior Surveyor Biro Klasifikasi Indonesia sejak tahun 1982 setelah tamat kuliah. Surveyor Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) adalah tenaga ahli atau petugas profesional dari PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) yang bertugas melakukan pemeriksaan, pengukuran, pengujian, serta sertifikasi pada kapal, bangunan lepas pantai, dan komponen maritim.
Tugas utamanya antara lain, melakukan survei dan pemeriksaan fisik pada proses pemba-ngunan atau reparasi kapal di galangan kapal. Pengujian standar teknis, untuk memastikan bahwa rancangan, material, permesinan, dan perlengkapan kapal sesuai dengan standar kese-lamatan nasional maupun internasional. Serta penerbitan Sertifikat Klasifikasi. Irsafwin ke Batam pertama kali September 1990 mendampingi Direktur Utama PT (Persero) Biro Klasifikasi Indonesia, merencanakan pembukaan kantor BKI Cabang Batam.

Pada bulan Mei 1991 Irsafwin pindah ke Batam, membuka kantor Station Surveyor PT BKI dan dipercaya menjabat Kepala Station Surveyor PT (Persero) BKI. Tugasnya, mempersiapkan pembukaan Kantor PT (Persero) BKI Cabang Batam. Irsafwin menjabat sebagai Kepala Cabang PT (Persero) Biro Klasifikasi Indonesia Cabang Batam, dari tahun 1991 sampai 1995.
Selain itu, Irsafwin juga dipercaya beberapa perusahaan asing sebagai Non Exclusive Surveyor, yakni seorang penilai atau pemeriksa independen profesional yang bekerja paruh waktu di satu perusahaan atau badan klasifikasi tertentu. Istilah ini sangat umum ditemukan dalam industri maritim atau perkapalan dan asuransi, di mana perusahaan membutuhkan jasa pemeriksaan di pelabuhan atau wilayah yang tidak memiliki kantor cabang atau surveyor tetap.

Selain itu, Irsafwin selaku Surveyor BKI juga melaksanakan tugas sebagai Non Exclusive Surveyor bagi Badan Klasifikasi International anggota IACS (International Association Classifi-cation Society) karena adanya mutual agreement antara BKI dengan mereka. Tugas utamanya antara lain melaksanakan pemeriksan terhadap kapal-kapal berbendara asing yang masuk pelabuhan Indonesia khususnya Kepri, atas permintaan shipping agent.
Selama tiga tahun, dalam rentang waktu 1992 sampai 1995, Irsafwin pernah menjadi Non Exclusive Surveyor to Germanicher Lloyd. Non Exclusive Surveyor to Nippon Kaiji Kyokai. Non Exclusive Surveyor to China Classification Society serta Non Exclusive Surveyor to Korean Register.
Saat Irsafwin pindah dan bekerja di Batam, kondisi Batam yang diingatnya saat itu adalah, kondisi bandara Hang Nadim masih sangat sederhana. Ruang keberangkatan dan kedatangan pada saat itu di bandara tidak ada. ’’Saat itu, di bandara Hang Nadim tidak ada air conditioner (AC). Ruang VIP ada AC, tapi tidak dingin. Jalan-jalan masih satu jalur tapi mulus, lampu jalan di jalan utama tidak ada kecuali sekitar Nagoya,’’ kata Irsafwin, mengenang kondisi Batam.

Saat Irsafwin pindah ke Batam, kawasan industri pertama yakni Batamindo Industrial Park, baru didirikan tanggal 11 Januari 1990 untuk mengembangkan dan memasarkan lahan kawasan in-dustri Batamindo seluas 320 hektar. Perusahaan pertama yang menyewa kawasan industri itu adalah PT PT Thomson Indonesia, PT Sumitomo Wiring System dan PT Sumitomo Electric Industries.
Saat itu, cerita Irsafwin, industri galangan kapal sudah ada. Tapi, baru beberapa galangan kapal yang sudah beroperasi di Batam, seperti PT Bandar Victory Shipyard di Sekupang, PT Batamas Shipyard dan PT Kacaba Shipyard di Tanjunguncang serta PT Palma Progres Shipyard di Sagulung. ’’Semua galangan kapal itu, hanya membangun tongkang saja karena kapal bermo-tor dimasukkan sebagai negative list investasi oleh Otorita Batam,’’ kata Irsafwin.
Tahun 1993, PT Palma Progres Shipyard membangun untuk pertama kali kapal bermotor jenis landing craft. Kapal bermotor jenis landing craft yang di dunia komersial sering disebut sebagai Landing Craft Transport (LCT) atau awalnya dikenal sebagai Landing Craft Tank—adalah jenis kapal dengan dek terbuka dan pintu rampa (ramp door).

Namun, pembuatan kapal jenis landing craft ini, ditolak dan ditentang Otorita Batam. Irsafwin sebagai Kepala Cabang PT BKI Batam dan didukung Dirut PT (Persero) BKI berusaha memper-juangkan pembangunan kapal tersebut. Akhirnya, Otorita Batam mencabut negative list dari daftar investasi dan galangan kapal diperbolehkan membangun kapal bermotor.
Apa pengalaman tak terlupakan bagi Irsafwin selama jadi warga Batam? ‘’Saat saya berhasil memperjuangkan agar Otorita Batam mencabut negatif list investasi dan saya bisa membantu kawan-kawan industri galangan kapal membangun kapal bermotor jenis Landing Craft pertama yang dibangun PT Palma Progres Shipyard, launching pertama kali dan berhasil lulus dalam sea trial,’’ ujar Irsafwin. Sejak saat itu, banyak galangan kapal dari Singapura, pindah dan berinvestasi di Batam.

Sebagai pegawai BUMN yang ditempatkan di daerah, paling lama masa tugasnya 3 sampai 5 tahun, tapi melihat perkembangan Batam yang cukup pesat di masa depan, Irsafwin memutus-kan berhenti menjadi pegawai BUMN/PNS di Kementrian Perhubungan.
‘’Tahun 1995 saya cuti di luar tanggungan perusahaan. Lalu, pada tahun 1997 saya akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi pegawai BUMN atau PNS dan memilih meraih peluang berwirausaha di Batam. Kehidupan sosial kemasyarakatan dan pergaulan di Batam itulah yang menyebabkan saya dan keluarga betah dan bertahan di Batam,’’ cerita Irsafwin.
Selama setahun, dari 1996 sampai 1997 Irsafwin dipercaya menjadi staf ahli direksi PT Palma Progress Shipyard. Irsafwin lalu menjadi Managing Director PT Baruna Wahanakarya dari 1997 sampai sekarang di perusahaan maritime consultant services, equipments supplier & ships broker serta Direktur Utama PT Multi Energi Sarana 2015 sampai sekarang.
Selain menjadi pengusaha, Irsafwin suka berorganisasi. Saat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam berdiri tahun 1994 Irsafwin sudah menjadi pengurus Kadin Batam periode 1994 sampai 1999. Irsafwin juga dipercaya Ketua Bamuhas Kosgoro Kota Batam 1999 sampai sekarang. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan Propinsi Kepri dan Ketua Komite Tetap Kerjasama UKM Daerah Kadin Indonesia.
Sejak 2005 sampai sekarang, Irsafwin adalah Ketua DPD Lembaga Bina Bahari Nusantara (LBBN) Propinsi Kepri, Ketua Umum Lembaga Pengawasan Pelayanan Publik Batam (LP3B) 2012 sampai sekarang. Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Pasir Laut (APPL) Kepri 2015 sampai sekarang. Ketua PDK Kosgoro Provinsi Kepri periode 2021-2026.
Irsafwin juga aktif dalam bidang sosial dan keagamaan seperti Ketua Majelis Ekonomi DPD Muhammadiyah Kota Batam periode 2011 – 2016. Ketua Dewan Pembina Yayasan Mujahidin Orchid Park tahun 2011 sampai sekarang. Serta Sekretaris Jenderal Perkumpulan Kawan Lama Kota Batam Periode 2026-2030.
Selama 35 tahun menjadi warga Batam, yang paling berkesan bagi Irsafwin melihat kemajuan Pulau Batam adalah, kemajuan industri perkapalan dan industri konstruksi atau fabrikasi penun-jang industri migas. Galangan kapal di Batam yang pada awalnya hanya bisa membangun tongkang, kemudian mampu membangun kapal bermotor seperti tug boat, kapal kargo dan kapal tanker.
‘’Jumlah karyawan satu galangan kapal, bisa mencapai 1.000 tenaga kerja. Saat order berku-rang, akibatnya banyak pekerja yang di PHK atau dirumahkan. Oleh karena itu, saya mengusul-kan kepada para pemilik galangan guna menghindari PHK agar para supervisor dibantu untuk mendirikan perusahaan sendiri dalam bentuk CV atau PT dan mereka diberikan pekerjaan sebagai main kontraktor atau sub kontraktor di galangan kapal. Sejak itu, banyak muncul pengusaha-pengusaha muda yang awalnya sebagai karyawan di berbagai kawasan industri perkapalan dan migas, berani mengambil peluang sebagai pengusaha di bidang tersebut,’’ kata Irsafwin.
Sebagai warga lama di Batam, Irsafwin berharap Batam semakin maju. Saat ia menjadi pengu-rus Kadin Batam, ketika audiensi dengan Kasatlak Otorita Batam saat itu, Irsafwin menyam-paikan, agar Otorita Batam jangan terpaku dengan Kepres 41 sebagai dasar hukum berdirinya Otorita Batam dan sekarang terasa dampaknya. UU FTZ tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Ia bersama sejumlah rekannya yang tergabung dalam Lembaga Pengawasan Pelayanan Publik Batam (LP3B) memprakasai Forum Inisiatif Batam dan melakukan focus group discussion (FGD) yang menghasilkan satu kajian yang dirangkum dalam buku yang diberi judul Menata Kewenangan Pembangunan, Merajut Masa Depan Batam. Buku tersebut menawarkan solusi masalah dualisme di Batam. Namun, buku tersebut belum diluncurkan terkendala wabah Covid-19 yang melanda dunia. dan Ketua Tim Kajian Nazief Susila Darma meninggal dunia.
Buku berjudul Menata Kewenangan Pembangunan, Merajut Masa Depan Batam, kata Irsafwin, adalah gambaran ideal Batam di masa depan. Tidak ada lagi dualisme kepemimpinan dan Batam benar-benar menjadi seratus menjadi Free Trade Zone (FTZ) seperti Labuan di Malaysia. Sehingga, Batam memiliki ofshore banking dan semua transaksi perbankan untuk ekspor dan impor, bisa dilakukan dari Batam.
Selain organisasi pengusaha dan bisnis kegiatan keagamaan, Irsafwin juga aktif dalam orga-nisasi sosial kemasyarakatan seperti Perkumpulan Kawan Lama Batam dan dipercaya menja-bat sebagai Sekretaris Jendral (Sekjen). ’’Saya aktif di Perkumpulan Kawan Lama Batam atau disingkat Kalam, karena anggotanya lintas disiplin ilmu dan institusi mempunyai peranan penting untuk kemajuan Batamkedepan jika organisasi ini dikelola dengan baik dan profesi-onal,’’ kata Irsafwin.
Menurut Irsafwin, Kalam bisa mengkaji dan melakukan diskusi untuk menghasilkan pemikiran dari anggota Kalam yang berpengalaman di bidang masing-masing. Apalagi, ada yang pernah menjadi pejabat dan didukung oleh para pengusaha anggota Kalam, bagi kemajuan Batam. ‘’Tugas saya sangat berat sebagai Sekretaris Jenderal tanpa dukungan kawan-kawan pengurus dan anggota Kalam. Dan tidak mungkin berhasil mewujudkan cita-cita para pendiri Perkumpulan Kawan Lama Kota Batam,’’ tutur Irsafwin.
Ia berharap, Kalam di masa depan bisa menjadi think tank dan harus bisa bekerjasama dengan Pemko dan BP Batam untuk membangun Kota Batam menjadi kota khusus industri. Kalam harus bisa membantu Pemerintah dlam mensukseskan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Batam pada umumnya dan khususnya anggota Kalam.
‘’Saran saya untuk pemimpin Batam saat ini, Bapak Amsakar Achmad dan Ibu Li Claudia Chandra, harus bisa mengerakkan dua mesin dengan kecepatan yang sama untuk bisa bergerak lebih cepat untuk mencapai tujuan yang kita inginkan bersama. Jangan sampai mesinnya timpang. Ibarat mesin kapal, dua mesinnya harus sinkron bergerak. Jika tidak, ahli kemudi akan sulit mengarahkan kapal ke pelabuhan yang dituju,’’ kata Irsafwin mengibaratkan. ***
